Review Course Online Berbayar tentang AI/ML/Deep Learning

Tahun 2018-2019 ini alhamdulillah saya dapat kesempatan untuk merasakan dua course online yang (seharusnya) berbayar dengan topik AI, machine learning, atau deep learning. Saya akan coba review singkat kedua course tersebut, semoga bisa jadi pertimbangan jika ada yang tertarik mengikutinya.

Datacamp

Datacamp Course Online

Course online pertama yang saya dapat adalah Datacamp, saya dapat premium student plan-nya berkat bantuan kerja sama Pak Widiawan, dosen UGM, sekitar pertengahan tahun 2018. Course tersebut berlangsung sekitar 4 bulan.

Di Datacamp, tersedia beberapa alur belajar dengan fokus tujuan tertentu yang disebut “track”, misalnya Track “Machine Learning with Python” atau “Python Programmer”. Sebuah track akan terdiri dari beberapa course yang harus diselesaikan, dan sebuah course terdiri dari beberapa chapter. Dengan akun premium kita bisa mengambil course manapun dengan urutan manapun, “track” hanyalah fasilitas tidak wajib. Sedangkan dengan akun gratis kita hanya bisa mengakses chapter pertama setiap course.

Setiap course materi selalu disampaikan dengan dua metode: video penjelasan teori terlebih dahulu lalu dilanjut praktik dengan menggunakan interaktif window. Kita juga akan mendapatkan slide yang digunakan di video dan “catatan” saat menggunakan interaktif window.

Menurut saya bagian utama di Datacamp ada pada Interaktif window. Saya sering men-skip bagian video dan langsung mengerjakan praktik sambil membaca slidenya. Di interaktif window, kita akan semakin dilatih dalam menggunakan tools-tools programming kita. Setiap sintaks akan dikupas cukup dalam di bagian praktik. Bagusnya, praktik di sini tidak hanya fokus pada “coding”, tetapi juga ada praktik yang memaksa kita untuk eksplorasi data dan memahami teori.

Ada dua fitur sampingan yang menarik di Datacamp, yakni “Practice” dan “Projects”. Practice adalah kuis-kuis singkat yang bisa kita ikuti kapanpun dengan topik beragam, mempermudah kita untuk me-recall apa yang telah kita pelajari. Sedangkan Projects adalah fitur favorit saya, di sini kita akan berusaha menyelesaikan sebuah kasus studi yang real di mana kita diharapkan dapat meng-elaborate beberapa pengetahuan yang diperoleh dari course yang berbeda. Misalnya pada gambar di atas saya melakukan analisis data yang berhubungan dengan penemuan Handwashing.

Udacity: Deep Learning Nanodegree

Udacity Course Online

Course kedua saya dapat dari Udacity, alhamdulillah saya dapat beasiswa deep learning nanodegree dari Facebook awal tahun ini setelah mengikuti tahapan seleksinya. Course online tersebut berlangsung sekitar 5 bulanan.

Di Udacity proses belajar lebih mirip kuliah, kita bayar per-program yang kita ambil. Sebuah program akan terdiri dari beberapa Course dan beberapa Projek. Untuk bisa lulus dan mendapat sertifikat, kita perlu mengerjakan semua Projek besarnya. Kita juga tidak hanya mendapat materi berupa video, tetapi juga banyak catatan tulisan dan paper-paper referensi untuk dipelajari mandiri. Nilai plus di Udacity adalah video pelajaran terasa lebih interaktif, dengan animasi, coret-coret, atau kuis di tengah-tengah video.

Secara konten, Udacity juga memberikan konten-konten yang cukup mutakhir. Di program Deep Learning Nanodegree, ada course tentang metode-metode terbaru seperti Attention, GAN, Pix2Pix, Tensorflow, dan sebagainya. Bahkan penemu algoritma GAN juga sempat menjelaskan intuisi di balik GAN. Udacity tidak menyediakan interactive window seperti Datacamp, tetapi berupa akses ke Jupyter Notebook yang berada pada server Udacity.

Bagian lain yang saya suka dari Udacity adalah fitur “portal karir” nya. Udacity turut membantu pesertanya untuk mengejar karir di bidangnya. Ada beberapa proyek yang mengharuskan kita merombak profil LinkedIn, CV atau tampilan Github kita. Tujuannya agar memudahkan kita melamar kerja nantinya. Setelah selesai course kita juga bisa mengakses alumni portal yang berisi resource lain seperti webinar cara-cara wawancara dan seagainya.

Ringkasan

Menurut saya, keduanya punya plus minusnya sendiri. Datacamp lebih cocok untuk pemula, karena terlalu fokus ke menghafal dan memahami sintaks program (bukan teori). Sedangkan pembelajaran di Udacity terasa lebih umum, bisa jadi pemula akan kesulitan di bagian programmingnya karena untuk mengerjakan project bisa jadi banyak sekali bagian yang harus diprogram. Di Deep Learning Nanodegree kemarin saja, hanya 70% an siswa yang berhasil lulus.

Udacity terasa lebih unggul dengan lebih banyak memberi fitur tambahan yang mendukung, video yang lebih interaktif, dan projek besar yang lumayan melatih kemampuan programming kita. Di Datacamp latihan “Project” terasa lebih real karena menggunakan kasus-kasus nyata (jadi lebih terasa seru). Sedangkan di Udacity, kebanyak latihan menggunakan dataset yang lebih mengarah untuk riset.

Secara harga, Udacity lebih mahal, yakni sekitar $999 per-program yang diambil, sedangkan Datacamp hanya sekitar $30 per bulan untuk mengakses semua coursenya.

Jika ditanya mana yang worth it? bagi saya pribadi dengan gaji orang Indonesia, saya akan lebih memilih untuk mendalami dengan belajar menggunakan resource gratis, tetapi jika ada kesempatan beasiswa lagi dari Datacamp atau Udacity, kenapa tidak? keduanya akan tetap menambah ilmu dan wawasan bagi orang yang mau belajar 🙂

Oh ya silakan cek halaman ini untuk melihat beasiswa dari Udacity yang tersedira

About the author

Rian Adam

View all posts

Leave a Reply