Menuliskan Huruf Arab di Latex

Catatan: Artikel ini khusus untuk pengguna template Latex MIPA UGM SKRIPSI

Jadi ketika saya menulis skripsi dan tesis beberapa waktu lalu saya perlu menuliskan beberapa huruf Arab di laporan saya. Saya menggunakan template Latex dari MIPA UGM (download di sini).

Template tersebut dibuat awalnya oleh Pak Drs. Pekik Nurwantoro, Ph.D. lalu dimodifikasi oleh teman saya, Yusuf Syaifudin. Dan saya modif lagi di repo github saya. Dan karena menggunakan template ini lah menulis huruf Arab jadi sedikit tricky dari biasanya.

Compiler

Problem pertama adalah selama ini saya meng-compile file Latex saya menggunakan perintah pdflatex yang ternyata bisa dibilang tidak support untuk menampilkan tulisan dengan huruf yang aneh-aneh (unicode). Karenanya salah satu opsi yang saya gunakan adalah pindah menggunakan xelatex.

Compiler ini sebenarnya tidak perlu diinstall lagi bagi pengguna texlive Ubuntu. Dan kalau di online editor, biasanya juga disediakan opsi untuk mengatur compiler yang digunakan.

Package

Masalah lain adalah template dari MIPA UGM sudah tertata rapi, ini membuatnya sulit untuk sekadar menambah pengaturan package agar bisa menuliskan huruf Arab tanpa merusak apapun. Saya sudah mencoba menggunakan babel atau polyglossia tetapi selalu berakhir compiler error ๐Ÿ™

Lalu bagaimana solusinya? setelah beberapa kali mencoba solusi, saya temukan solusi yang menurut saya paling pas, berikut langkah-langkahnya:

1. Install XeTeX kalau anda belum memiliki xelatex. Di buntu bisa menggunakan perintah:

2. Download font yang menyediakan tampilan huruf Arab. Misalnya, yang saya gunakan adalah font Scheherazade.

3. Definisikan font tersebut ke dokumen kalian (di template MIPA UGM perinah ini dituliskan di ADDITIONAL_PACKAGE.tex):

4. Selanjutnya untuk setiap akan menuliskan huruf Arab, tinggal gunakan perintah \arabicfont:

5. Lalu untuk meng-compile, kita gunakan Xelatex, dengan perintah

6. Ketika proses compile selesai, maka akan muncul huruf Arab yang di posisi yang diinginkan. Tapi coba perhatikan, ada yang aneh dengan tulisan tersebut, yakni tulisan tidak dalam format RTL (right to left), atau tertulis dari kanan ke kiri, sehingga tulisannya jadi terbaca aneh. Lalu bagaimana caranya membuatnya format RTL?

7. Download file bidi.tex dari texdoc.net/texmf-dist/tex/xelatex/bidi/bidi.tex, jangan gunakan package bidi menggunakan perintah \usepackage{bidi} Saya tidak tahu pasti kenapa, tapi menggunakan package bidi seperti itu akan merusak template MIPA UGM. Dengan menggunakan bidi.tex langsung dari filenya kita memperoleh versi sederhana dari bidi yang lebih aman.

8. Inputkan file bidi tersebut setelah kita definisikan huruf Arab kita:

9. Untuk mengaktifkan RTL gunakan perintah \RL:

10. Dan coba compile ulang, maka kali ini akan benar-benar berhasil:

Sekian! Semoga bermanfaat, jika ada yang ditanyakan atau ada usulan solusi lain silakan komentar di kolom yang tersedia! ๐Ÿ™‚

Sumber:

Membuat Long Table menggunakan Tabularx

Bagi yang pernah menggunakan Latex, pasti kebanyakan akan setuju bahwa bermain tabel di Latex adalah hal yang lumayan menantang. Karenanya saya sendiri ketika membuat tabel di Latex saya paling sering menggunakan package Tabularx. Kenapa? karena menurut saya Tabularx itu punya kelebihan dalam mudahnya mengontrol ukuran kolom dibanding Tabular biasa (fitur yang paling sering saya gunakan). Sayangnya, di balik kelebihan selalu ada kekurangan. Salah satunya adalah belum support untuk membuat long table.

Apa itu Long Table?

Long table adalah istilah untuk membuat tabel yang panjangnya lebih dari satu halaman. Beberapa karakteristik dari long table adalah:

  1. panjangnya lebih dari satu halaman,
  2. nomor tabelnya masih sama,
  3. kontennya masih berlanjut,
  4. bisa punya caption sendiri (biasanya berupa “lanjutan”),
  5. tidak terindeks di daftar isi.

Sebenarnya Long Table sendiri ada Package tersendiri, tapi karena saya tidak mau rumit-rumit mempelajari package baru, saya coba untuk meng-“hack” Tabularx sehingga bisa menjadi long table. Saya sebut ini “hack” karena kita akan tetap menggunakan Tabularx hanya saja kita akan buat agar hasilnya seakan-akan menggunakan long table. Idenya sederhana, kita buat dua tabel dengan bentuk yang mirip, lalu kita atur agar memenuhi kriteria long tabel.

Langkah-langkahnya:

  • Buat terlebih dahulu dua tabel dengan bentuk yang sama. Pastikan tabel kedua pada halaman selanjutnya. Hal ini bisa dengan menggunakan perintah \newpage.
  • Selanjutnya, atur penomoran tabel kedua agar memiliki nomor yang sama dengan tabel pertama. Caranya dengan menambahkan \addtocounter  sebelum mendefinsikan tabel kedua, dan beri nilai -1 sehingga penomoran seharusnya dikurang satu.
  • Terakhir, pastikan tabel kedua tidak muncul di daftar isi dengan cara memberi kurung siku pada bagian \caption

Dan selesai… Jika dicompile maka akan tampak tabel akan tampil lebih dari satu halaman dengan kriteria long table yang telah disebutkan sebelumnya.

Tentu saja ini tidak sempurna, salah satu kekurangannya adalah kita masih belum bisa memenuhi poin ketiga dari kriteria Long Table, yakni konten tidak dapat berlanjut secara otomatis. Kita harus secara manual memisahkan mana bagian yang masuk tabel pertama, mana yang masuk tabel kedua. Ya setidaknya hasilnya sudah lumayan mirip dengan Long Table kan? ๐Ÿ˜‰

image from: https://www.potterybarn.com/

Membuat Asynchronous Flask App dengan Gunicorn-Gevent

Salah satu masalah yang pernah saya hadapi ketika mencoba mengaplikasikan model machine learning ke produksi adalah model biasanya memerlukan beberapa waktu untuk melakukan perhitungan dan memberikan hasil.

Misalnya kita punya machine learning API untuk mengklasifikasi citra, dan butuh waktu kira-kira 2 detik untuk menghasilkan kelas yang sesuai (memprediksi), bisa dibayangkan apa yang terjadi jika kita letakkan itu di level produksi dengan 1000 permintaan prediksi perdetiknya! Yang ada server akan lambat sekali, user harus mengantri sangat lama untuk mendapatkan hasil prediksinya.

Asynchronous API

Solusi sederhana yang muncul di saya adalah membuat Asynchronous API. Apa itu? Penjelasan sederhananya bisa merujuk keย halaman stackoverflow ini: Bayangkan kamu sedang memasak di restoran, dan ada dua pesanan datang, yang satu memesan telur yang satu memesan roti.

  • Synchronous: kamu memasak telur, setelah itu kamu memasak roti
  • Asynchronous, single threaded: kamu mulai memasak telur, lalu sambil menunggu matang kamu mulai memasak roti. Ketika keduanya sedang menunggu matang kamu bisa mulai membersihkan dapur, dan keduanya akan matang dalam waktu yang hampir bersamaan.
  • Asynchronous, multithreaded: kamu mempekerjakan satu lagi orang untuk membantu memasak. Sekarang, satu orang bisa fokus memasak telur dan satu yang lain fokus memasak roti. Masalahnya sekarang kamu harus bisa mengkoordinirnya dengan baik agar tidak berebut alat dapur.

Nah, karenanya kita akan mencoba membuat API yang Asynchronous, sehingga proses pengerjaan bisa dilakukan dalam waktu hampir bersamaan. (Penjelasan lain :ย dari codewala)

Bagaimana cara membuatnya?

Ada banyak cara untuk mengimplementasikan Asynchronous API. Tapi karena saya membuat API menggunakan Python Flask. Salah satu cara yang paling simpel adalah menggunakanย  Gunicorn dan Gevent. Pertama-tama instal terlebih dahulu Gunicorn dan Gevent, cara yang sederhana adalah menggunakan pip:

Normalnya jika kita akan menjalankan aplikasi Flask, kita melakukannya cukup dengan menjalankan perintah Python pada umumnya:

Tetapi untuk menjalankannya menggunakan Gunicorn kita akan menjalankan program tersebut dengan perintah yang berbeda, yakni:

myapp adalah nama file program kita, and app adalah flask app variable. Setelah perintah tersebut dijalankan, program akan berjalan di http://localhost:8000 (perhatikan pada perbedaan port program berjalan, jika menggunakan Flask, program akan berjalan pada port 5000, sedangkan jika menggunakan Gunicorn program berjalan pada port 8000).

Tapi ini belum selesai, jika hanya menjalankan dengan perintah di atas, maka program hanya akan berjalan synchronous. Untuk menjalankan secara asynchronous dengan Gunicorn kita tidak perlu mengubah isi dari program, cukup dengan menjalankan perintah berikut ini:

-k adalah opsi untuk menjalankan Gunicorn secara asynchronous, di sana kita akan menggunakan gevent service (ada beberapa services yang bisa digunakan untuk menjalankan secara asynchronous, contoh lainnya adalah eventlet). -w adalah opsi untuk menentukan berapa banyak worker yang akan digunakan untuk menjalankan program tersebut. Pada contoh ini kita menggunakan 5 worker (Penentuan jumlah worker, silakan baca: Workers).

Dan selamat! kita baru saja menjalankan program Flask kita secara asynchronous!

Testing

Untuk menguji API yang telah kita jalankan, yang paling sederhana kita bisa menggunakan apache benchmark. Dengan apache benchmark kita bisa melakukan simulasi pengaksesan ke API kita dengan banyak request secara simultan, perintahnya adalah berikut:

-n menunjukkan banyak request yang akan dikirimkan, dan -c adalah banyaknya concurency, atau request dalam satu waktu. Jika diperhatikan hasilnya akan tampak perbedaan ketika program dijalankan dengan Async dan tanpa Async.

Tapi perintah di atas, hanya untuk menjalankan GET request, artinya untku API machine learning, perinta di atas hanya menguji dalam mengaksesnya tidak untuk memprediksi. Untuk program machine learning, kita bisa melampirkan data “test” untuk mengujinya.

Misalnya API machine learning untuk proses sentimen movie review, kita bisa melampirkan data teks contoh untuk diprediksi. Pertama-tama Kita buat dulu datanya dengan format sesuai API yang telah dibuat (tidak ditunjukkan pada tutorial ini):

Setelah itu, simpan data tersebut pada sebuah file misalnya “tester.txt”. Nah untuk melampirkannya cukup kita tambahka tipe body dan nama file di perintah sebelumnya:

Maka API akan diuji untuk memprediksi data tersebut, dan kita dapat memperhitungkan waktu prosesnya.

Terima kasih ๐Ÿ™‚ semoga bermanfaat