Software for online teaching for Ubuntu users

Last semester all lectures were 100% online. Very challenging, especially for me, who uses a computer with the Ubuntu operating system. It isn’t very easy when recommended online teaching software only compatible with Windows/macOS. In this article, I will share some useful software for teaching online for Ubuntu users. While teaching online during this pandemic, I have been greatly helped by this software. Hopefully, it is useful for readers out there.

Simple Screen Recorder

The first software I want to share is screen recording software. Because when teaching online, sometimes I have to make video tutorials for my classes. In my opinoin, Simple Screen Recorder is the best choice. The features I want to highlight:

  • Simple. Super simple. I have tried several other screen recording software on Ubuntu, but none are as complete and straightforward as a simple screen recorder.
  • Can record by a window, follow the mouse, or a specific area on the screen. Another alternative that I’ve ever done to make a recorded video is to use Zoom. But in the zoom, there is no option to capture a particular area. It’s quite useful when we want to record with a “cheat sheet” on the screen.
  • Video quality settings are also very easy. I usually use “youtube” quality with a frame rate of 30. The resulting video will have reasonable quality with reasonable file size. A video of approximately 10 minutes will be around 25 MB in size.
  • The feature I like the most is their short cut. Yups, I can set my short cut so that the record-stop-save process can quickly be done behind the scenes. As long as the application is running, even though it is in a minimized state, I just need to press my shortcut button, and then the software will start recording the screen. I press it again, and then the video will be saved. Super simple.

I experienced the drawback with Simple Screen Recorder when I wanted to record an audio source from a laptop (e.g., I want to displayed sound/video). The audio source cannot be changed in the middle of the recording. For example, suppose you want to record audio from a computer and a mic. In that case, you have to separate it into two different videos or use other software, for example, Zoom or Kazam (which, in my opinion, is not simple).

Continue reading

Review software untuk mengajar online di Ubuntu

Semester ganjil perkuliahan 2020/2021 Informatika UII dilalui dengan 100% online. Penuh tantangan, khususnya bagi saya yang menggunakan komputer dengan sistem operasi Ubuntu. Sulit sekali ketika ada software-software yang disarankan teman untuk digunakan tetapi tidak bisa digunakan karena terkendala OS. Pada artikel ini saya akan sharing, beberapa software yang bermanfaat untuk mengajar online di Ubuntu. Selama mengajar online semasa pandemi ini, saya sangat terbantu dengan software-software ini. Semoga bermanfaat juga untuk pembaca di luar sana.

Simple Screen Recorder

Software pertama yang ingin saya share adalah software untuk merekam layar. Karena ketika mengajar online saya beberapa kali harus membuat video tutorial, simple screen recorder adalah aplikasi terbaik menurut saya. Beberapa fitur yang ingin saya highlight:

pengaturan simple screen recorder
  • Simpel. Super simpel. Saya sudah coba beberapa software perekam layar lain di Ubuntu tetapi tidak ada yang sesimpel dan selengkap simple screen recorder.
  • Bisa merekam berdasarkan jendela, mengikuti mouse, atau area tertentu pada layar. Sebenarnya alternatif lain yang pernah saya lakukan untuk membuat video rekaman adalah menggunakan Zoom. Tapi di zoom tidak ada pilihan untuk merekampada area tertentu. Lumayan bermanfaat ketika kita mau merekam dengan “contekan” di layar.
  • Pengaturan kualitas video juga sangat mudah. Settingan yang saya pakai biasanya adalah kualitas “youtube” dengan frame rate 30. Video yang dihasilkan akan berada pada kualitas wajar dengan ukuran file yang juga wajar. Video sekitar 10 menit akan berukuran sekitar 25 MB.
  • Fitur yang paling saya suka adalah short cut. Yups, saya bisa mengatur short cut saya sendiri sehingga proses rekam-stop-simpan bisa dengan mudah dilakukan dibalik layar. Selama aplikasi sudah jalan, meskipun dalam keadaan minimize saya tinggal pencet short cut saya, maka layar akan terekam, saya pencet lagi, video akan tersimpan. Super simpel.

Kekurangan yang saya alami di Simple Screen Recorder adalah ketika saya ingin merekam audio dari laptop (misalnya ada suara/video yang saya tampilkan juga). Pemilihan sumber audio yang akan digunakan tidak bisa diubah-ubah ditengah-tengah perekaman, jadi semisal mau merekam audio dari komputer sekaligus dari mic, harus terpisah jadi dua video berbeda atau menggunakan software lain, Zoom misalnya atau Kazam (yang menurut saya tidak simpel).

Continue reading

Meng-custom Perintah/Command di Terminal Ubuntu

Beberapa waktu lalu saya mendapat kesempatan untuk ikut Grand Final Kode Indonesia di Jakarta. Kode Indonesia adalah sebuah kontes pemrograman yang diadakan oleh Kalibrr.

Berbeda dengan kontes pemrograman pada umumnya, pada kontes ini panitia tidak menyediakan komputer atau laptop untuk para finalis. Jadi para finalis dipersilakan untuk menggunakan komputernya masing-masing di Grand Final. Sebenarnya ini peraturan yang aneh karena ini membuat setiap peserta bisa jadi punya “starting-point” yang berbeda kan? misal kualitas komputer, file-file yang tersedia, dsb.

Tapi ya sudah, karena ini aturan panitia sendiri maka saya juga mencoba menyiapkan laptop saya. Hal sederhana yang saya pikirkan adalah:

Meng-custom perintah atau command di terminal Ubuntu: Coba buat perintah sederhana untuk meng-compile sekaligus menjalankan program C++!

Tujuan command tersebut tentu untuk mempersingkat proses compile. Karena saya sendiri biasa tidak menggunakan IDE yang bisa meng-compile program, maka cara saya biasanya untuk meng-compile file C++ adalah dengan menjalankan perintah (command) berikut:

$ g++ mycppfile.cpp -o outfile

Lalu setelah di-compile, dijalankan dengan perintah:

./outfile

Nah, misi sederhana saya saat itu adalah menyederhanakan kedua perintah di atas menjadi sebuah perintah sederhana. Setelah browsing-browsing, berikut ini rangkuman langkah-langkahnya:

  1. Buat sebuah script file, misalnya kita beri nama `customcpp.sh`
  2. Pada baris pertama, tuliskan `#!/bin/bash` lalu tuliskan perintah yang ingin dijalankan di bawahnya seperti di bawah. Pada perintah di bawah `CPPFILE` adalah variabel yang menyimpan argumen yang akan diinputkan saat pemanggilan. Nantinya akan menerima nama file yang akan di-compile.
    #!/bin/bash
    CPPFILE="$1"
    g++ ${CPPFILE}.cpp -o outfile
    ./outfile
  3. Simpan file tersebut, lalu pindahkan ke `/usr/local/bin`, pemindahannya bisa menggunakan command di bawah. SCRIPTNAME adalah nama perintah yang akan dipanggil ketika script di atas di jalankan.
    sudo mv ~/customcpp.sh /usr/local/bin/SCRIPTNAME
  4. Atur permission agar program bisa diakses
    sudo chown root: /usr/local/bin/SCRIPTNAME
    sudo chmod 755 /usr/local/bin/SCRIPTNAME

Dan… selesai!

Setelah selesai, sekarang untuk mengcompile sekaligus menjalankan program C++, saya cukup mengetikkan di terminal command berikut ini:

SCRIPTNAME mycppfile

ya.. setidaknya sedikit lebih cepat dari sebelumnya kan 😉

Sumber:

cuda di ubuntu

Instalasi Cuda di Ubuntu 16.04: Part 2

Artikel ini adalah kelanjutan dari pengalaman instalasi Cuda di Ubuntu saya sebelumnya.

Setelah sadar NVIDIA drivernya belum terinstall akhirnya saya memulai proses instalasi driver NVIDIA.

7. Cara paling mudah yang saya temui, pertama-tama kita harus tahu terlebih dahulu versi VGA kita. Ini bisa diakses dengan mengetikkan lspci -vnn | grep '\[03' di terminal, sehingga terlihat code VGA kita, misal:

04:00.0 3D controller [0302]: NVIDIA Corporation GK208M [GeForce 920M] [10de:1299] (rev a1)

8. Setelah itu akses NVIDIA Driver Search, dan masukkan kode yang sesuai.

instalasi cuda di ubuntu : download driver

9. Klik Search, tapi Jangan klik download. Kenapa? karena data yang kita butuhkana adalah versi drivernya (dalam hal ini 367.44)

instalasi cuda di ubuntu : download driver 2

10. Itu artinya kita perlu mendownload nvidia versi 367, ini bisa dilakukan dengan ketikkan perintah pada terminal sudo apt-get install nvidia-367

11. Lalu reboot dan Alhamdulillah 🙂 terinstallah NVIDIA Driver

12. Dan kalau kita lakukan pengecekan yang sama dengan post sebelumnya, untuk mengecek apakah proses instalasi Cuda di Ubuntu sudah kita lalui dengan baik. Maka erornya akan sudah tidak tampak, dan muncul pesan berikut:

...
deviceQuery, CUDA Driver = CUDART, CUDA Driver Version = 8.0, CUDA Runtime Version = 7.5, NumDevs = 1, Device0 = GeForce 920M
Result = PASS

Catatan Tambahan:
Jika saat melakukan perintah 4 versi tidak ditemukan *seperti pengalaman saya sebelumnya* maka kalian perlu update apt dengan menjalankan perintah-perintah berikut:

sudo add-apt-repository ppa:graphics-drivers/ppa
sudo apt update

Referensi:

Instalasi Cuda di Ubuntu 16.04: Part 1

Kalau kalian sedang ingin belajar Deep Learning dan ingin mencoba utak-atik tensorflow, maka kalian pasti sadar kalau tensorflow tidak mau berjalan di Windows. Karenanya kali ini, mau sedikit lagi berbagi pengalaman langkah yang saya pakai untuk instalasi NVIDIA Cuda di Ubuntu.

Kalau mau langsung cepat, silakan baca bagian Referensi

Proses dan pengalaman

1. Awalnya saya ngiranya driver NVIDIA akan otomatis terinstall di Ubuntu 16.04 *kayaknya dikabarin sama siapa gitu, dan percaya-percaya saja* Karena kepercayaan itu langkah pertama yang saya lakukan adalah langsung download Cuda.

2. Setelah terdownload (cuda_7.5.18_linux.run) langsung run dengan perintah:

sudo sh cuda_7.5.18_linux.run --override

3. Nah, karena pas lagi install saya masih PeDe sudah ada nvidia drivernya akhirnya ketika ditawarin di menu installnya untuk instal nvidia driver saya ya jawab NO dan setelah itu proses instalasi tetap berjalan lancar dan berhasil.

4. Setelah berhasil terinstal, saya pingin coba cek apakah Cuda sudah berjalan dengan memainkan file sampel Cuda nya. Caranya tinggal tuju folder `home/user/NVIDIA_CUDA-7.5_Samples/1_Utilities/deviceQuery` Setelah itu, open terminal di lokasi tersebut dan run perintah `make` di terminal. Lalu jalankan program device query dengan perintah `./deviceQuery`.

5. Dan munculah tulisan seperti ini 🙁

-> CUDA driver version is insufficient for CUDA runtime version
Result = FAIL

6. Error tersebut menyadarkan ada yang salah dengan NVIDIA drivernya. Setelah coba cek dengan beberapa cara untuk mengecek apakah NVIDIA driver sudah terinstall, dengan perintah dpkg -l | grep nvidia, ternyata driver NVIDIA nya memang belum terinstall dengan baik 😐 karenanya saya langsung memulai proses instalasi NVIDIA Drivernya

–Bersambung di sini–

Referensi: