Review Course Online Premium AI, ML, dan Deep Learning

Tahun 2018-2020 ini alhamdulillah saya dapat kesempatan untuk merasakan tiga course online premium yang (seharusnya) berbayar dengan topik AI, machine learning, atau deep learning. Alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan mengikuti ketiga course online ini secara gratis, melalui program beasiswa dan bantuan kampus. Saya akan coba review singkat ketiga course tersebut, semoga bisa jadi pertimbangan jika ada yang tertarik mengikutinya.

Datacamp

Datacamp Course Online

Course online pertama yang saya dapat adalah Datacamp, saya dapat premium student plan-nya berkat bantuan kerja sama Pak Widiawan, dosen UGM, sekitar pertengahan tahun 2018. Course tersebut berlangsung sekitar 4 bulan.

Di Datacamp, tersedia beberapa jalur belajar dengan fokus tujuan tertentu yang disebut “track”, misalnya Track “Machine Learning with Python” atau “Python Programmer”. Sebuah track akan terdiri dari beberapa course yang harus diselesaikan, dan sebuah course terdiri dari beberapa chapter. Dengan akun premium kita bisa mengambil course manapun dengan urutan manapun, “track” hanyalah fasilitas tidak wajib. Sedangkan dengan akun gratis kita hanya bisa mengakses chapter pertama setiap course.

Setiap course materi selalu disampaikan dengan dua metode: video penjelasan teori terlebih dahulu lalu dilanjut praktik dengan menggunakan interaktif window. Kita juga akan mendapatkan slide yang digunakan di video dan “catatan” saat menggunakan interaktif window.

Menurut saya bagian utama di Datacamp ada pada Interaktif window. Saya sering men-skip bagian video dan langsung mengerjakan praktik sambil membaca slidenya. Di interaktif window, kita akan semakin dilatih dalam menggunakan tools-tools programming kita. Setiap sintaks akan dikupas cukup dalam di bagian praktik. Bagusnya, praktik di sini tidak hanya fokus pada “coding”, tetapi juga ada praktik yang memaksa kita untuk eksplorasi data dan memahami teori.

Ada dua fitur sampingan yang menarik di Datacamp, yakni “Practice” dan “Projects”. Practice adalah kuis-kuis singkat yang bisa kita ikuti kapanpun dengan topik beragam, mempermudah kita untuk me-recall apa yang telah kita pelajari. Sedangkan Projects adalah fitur favorit saya, di sini kita akan berusaha menyelesaikan sebuah kasus studi yang real di mana kita diharapkan dapat meng-elaborate beberapa pengetahuan yang diperoleh dari course yang berbeda. Misalnya pada gambar di atas saya melakukan analisis data yang berhubungan dengan penemuan Handwashing.

Udacity: Deep Learning Nanodegree

Udacity Course Online

Course kedua saya dapat dari Udacity, alhamdulillah saya dapat beasiswa Deep Learning Nanodegree dari Facebook awal tahun 2019 setelah mengikuti tahapan seleksinya dan mendapat beasiswa tambahan Deep Reinforcement Learning Nanodegree dari Facebook juga di akhir 2019. Masing-masing course tersebut berlangsung sekitar 5 bulan.

Di Udacity proses belajar lebih mirip kuliah, kita bayar per-program yang kita ambil. Sebuah program akan terdiri dari beberapa Course dan beberapa Projek. Untuk bisa lulus dan mendapat sertifikat, kita perlu mengerjakan semua Projek besarnya. Kita juga tidak hanya mendapat materi berupa video, tetapi juga banyak catatan tulisan dan paper-paper referensi untuk dipelajari mandiri. Nilai plus di Udacity adalah video pelajaran terasa lebih interaktif, dengan animasi, coret-coret, atau kuis di tengah-tengah video.

Secara konten, Udacity juga memberikan konten-konten yang cukup mutakhir. Di program Deep Learning Nanodegree, ada course tentang metode-metode terbaru seperti Attention, GAN, Pix2Pix, PyTorch, Tensorflow, dan sebagainya. Bahkan penemu algoritma GAN, Ian Goodfellow, juga sempat menjelaskan intuisi di balik GAN. Udacity tidak menyediakan interactive window seperti Datacamp, tetapi berupa akses ke Jupyter Notebook yang berada pada server Udacity.

Selain itu yang perlu saya tekankan, Udacity cukup selektif dalam memberi kelulusan pesertanya alias tidak mudah. Karena topiknya cukup dalam secara teori ataupun praktik. Berdasarkan pengalaman staff Udacity, biasanya hanya 65% orang yang lulus dari course Udacity. Saya ingat sekali di course kedua saya, Deep Reinforcement Learning nanodegree, saya hampir tidak lulus karena ada satu project yang sulit sekali untuk dikerjakan sedangkan saya saat itu sedang di masa-masa banyak kegiatan di kampus. Saya harus curi-curi waktu untuk coding saat itu.

Bagian lain yang saya suka dari Udacity adalah fitur “portal karir” nya. Udacity turut membantu pesertanya untuk mengejar karir di bidangnya. Ada beberapa proyek yang mengharuskan kita merombak profil LinkedIn, CV atau tampilan Github kita. Tujuannya agar memudahkan kita melamar kerja nantinya. Setelah selesai course kita juga bisa mengakses alumni portal yang berisi resource lain seperti webinar cara-cara wawancara dan seagainya.

Coursera

Alhamdulillah di tahun 2020 ini saya mendapat kesempatan untuk mengikuti course online premium yang lain, yakni Coursera. Universitas Islam Indonesia tempat saya saat ini bekerja sama dengan coursera untuk menyediakan konten premium atau berbayarnya secara gratis. Sebenarnya saya sendiri belum menyelesaikan satupun dari course yang berbayar ini. Tapi sebelumnya saya beberapa kali telah menyelesaikan course gratis dari Coursera jadi saya coba akan kombinasikan reviewnya

Berbeda dengan Udacity dan Datacamp, tidak semua content di Coursera itu original jadinya kualitas konten sangat tergantung dengan pemberi konten. Total saya sudah pernah mengikuti course dari 4 lembaga berbeda, dan pengalaman yang saya rasakan pun berbeda-beda. Pengalaman terbaik saat ini saya peroleh dari Andrew Ng (deeplearning.ai) dan University of Amsterdam. Keunggulan dari bentuk ini adalah konten yang tersedia jadi sangat banyak pilihan dan beragam!

Konten diberikan dengan beragam cara, mirip dengan Udacity. Ada course, referensi paper, latihannya pun bisa berupa pemrograman. Saya suka dengan adanya fitur transkrip ketika menonton video sehingga bisa lihat apa yang tadi dikatakan pengajar tanpa harus mengulangi videonya. Fitur forum juga tersedia untuk berdiskusi antar siswa jika ada materi yang kurang jelas. Sayangnya yang saya rasa beberapa course forumnya sangat tidak aktif, banyak pertanyaan yang tidak terjawab secara “official”, hanya sekadar perkiraan hasil diskusi antar peserta.

Saya juga sebenarnya masih bingung apa bedanya Coursera yang berbayar dengan yang tidak, secara fitur. Karena kebanyakan course yang disediakan sudah gratis, yang saya tahu sampai saat ini bedanya baru sekadar mendapat sertifikat dan kesempatan diskusi di forum (yang kadang tidak aktif). Tapi saya akan coba selesaikan course-course berbayar ini dan akan mengupdate artikel ini kedepannya jika ada yang menarik untuk didiskusikan.

Ringkasan

Menurut saya, ketiganya punya plus minusnya sendiri. Secara konten Datacamp lebih cocok untuk pemula, karena terlalu fokus ke menghafal dan memahami sintaks program (bukan teori). Sedangkan pembelajaran di Udacity terasa lebih umum, bisa jadi pemula akan kesulitan di bagian programmingnya karena untuk mengerjakan project bisa jadi banyak sekali bagian yang harus diprogram. Sedangkan untuk Coursera, dengan beragamnya konten, saya tidak bisa cerita banyak selain “tergantung siapa penyedia kontennya”. Beberapa konten bisa sangat menarik baik untuk pemula maupun yang sudah berpengalaman.

Udacity terasa lebih unggul dengan lebih banyak memberi fitur tambahan yang mendukung, video yang lebih interaktif, dan projek besar yang lumayan melatih kemampuan programming kita. Hal tersebut juga saya rasakan di beberapa course di Coursera. Di Datacamp latihan “Project” terasa lebih real karena menggunakan kasus-kasus nyata (jadi lebih terasa seru). Sedangkan di Udacity dan Coursera, kebanyak latihan menggunakan dataset yang lebih mengarah untuk riset.

Secara harga, Udacity lebih mahal, yakni sekitar $999 per-program yang diambil, sedangkan Datacamp hanya sekitar $30 per bulan untuk mengakses semua coursenya dan Coursera sekitar $80 tiap course.

Jika ditanya mana yang worth it? bagi saya pribadi dengan gaji orang Indonesia, saya akan lebih memilih untuk mendalami dengan belajar menggunakan resource gratis, tetapi jika ada kesempatan beasiswa atau mengikuti course online gratis lagi dari Datacamp, Udacity, atau Coursera, kenapa tidak? keduanya akan tetap menambah ilmu dan wawasan bagi orang yang mau belajar 🙂

Oh ya silakan cek halaman ini untuk melihat beasiswa dari Udacity yang tersedia

About the author

Rian Adam

Lecturer at Universitas Islam Indonesia; Machine Learning Enthusiast

View all posts

Leave a Reply