Review Course Online Premium AI, ML, dan Deep Learning

Tahun 2018-2021 ini Alhamdulillah saya dapat kesempatan untuk mengikuti beberapa course online premium yang berbayar dengan topik AI, machine learning, atau deep learning. Saya akan coba review singkat ketiga course tersebut, semoga bisa jadi pertimbangan jika ada yang tertarik mengikutinya.

Datacamp

Datacamp Course Online

Course online pertama yang saya dapat adalah Datacamp, saya dapat premium student plan-nya berkat bantuan kerja sama Pak Widiawan, dosen UGM, sekitar pertengahan tahun 2018. Course tersebut berlangsung sekitar 4 bulan.

Di Datacamp, tersedia beberapa jalur belajar dengan fokus tujuan tertentu yang disebut “track”, misalnya Track “Machine Learning with Python” atau “Python Programmer”. Sebuah track akan terdiri dari beberapa course yang harus diselesaikan, dan sebuah course terdiri dari beberapa chapter. Dengan akun premium kita bisa mengambil course manapun dengan urutan manapun, “track” hanyalah fasilitas tidak wajib. Sedangkan dengan akun gratis kita hanya bisa mengakses chapter pertama setiap course.

Setiap course materi selalu disampaikan dengan dua metode: video penjelasan teori terlebih dahulu lalu dilanjut praktik dengan menggunakan interaktif window. Kita juga akan mendapatkan slide yang digunakan di video dan “catatan” saat menggunakan interaktif window.

Menurut saya bagian utama di Datacamp ada pada Interaktif window. Saya sering men-skip bagian video dan langsung mengerjakan praktik sambil membaca slidenya. Di interaktif window, kita akan semakin dilatih dalam menggunakan tools-tools programming kita. Setiap sintaks akan dikupas cukup dalam di bagian praktik. Bagusnya, praktik di sini tidak hanya fokus pada “coding”, tetapi juga ada praktik yang memaksa kita untuk eksplorasi data dan memahami teori.

Ada dua fitur sampingan yang menarik di Datacamp, yakni “Practice” dan “Projects”. Practice adalah kuis-kuis singkat yang bisa kita ikuti kapanpun dengan topik beragam, mempermudah kita untuk me-recall apa yang telah kita pelajari. Sedangkan Projects adalah fitur favorit saya, di sini kita akan berusaha menyelesaikan sebuah kasus studi yang real di mana kita diharapkan dapat meng-elaborate beberapa pengetahuan yang diperoleh dari course yang berbeda. Misalnya pada gambar di atas saya melakukan analisis data yang berhubungan dengan penemuan Handwashing.

Udacity: Deep Learning Nanodegree

Udacity Course Online

Course kedua saya dapat dari Udacity, alhamdulillah saya dapat beasiswa Deep Learning Nanodegree dari Facebook awal tahun 2019 setelah mengikuti tahapan seleksinya dan mendapat beasiswa tambahan Deep Reinforcement Learning Nanodegree dari Facebook juga di akhir 2019. Masing-masing course tersebut berlangsung sekitar 5 bulan.

Di Udacity proses belajar lebih mirip kuliah, kita bayar per-program yang kita ambil. Sebuah program akan terdiri dari beberapa Course dan beberapa Projek. Untuk bisa lulus dan mendapat sertifikat, kita perlu mengerjakan semua Projek besarnya. Kita juga tidak hanya mendapat materi berupa video, tetapi juga banyak catatan tulisan dan paper-paper referensi untuk dipelajari mandiri. Nilai plus di Udacity adalah video pelajaran terasa lebih interaktif, dengan animasi, coret-coret, atau kuis di tengah-tengah video.

course online udacity

Secara konten, Udacity juga memberikan konten-konten yang cukup mutakhir. Di program Deep Learning Nanodegree, ada course tentang metode-metode terbaru seperti Attention, GAN, Pix2Pix, PyTorch, Tensorflow, dan sebagainya. Bahkan penemu algoritma GAN, Ian Goodfellow, juga sempat menjelaskan intuisi di balik GAN. Udacity tidak menyediakan interactive window seperti Datacamp, tetapi berupa akses ke Jupyter Notebook yang berada pada server Udacity.

Selain itu yang perlu saya tekankan, Udacity cukup selektif dalam memberi kelulusan pesertanya alias tidak mudah. Karena topiknya cukup dalam secara teori ataupun praktik. Berdasarkan pengalaman staff Udacity, biasanya hanya 65% orang yang lulus dari course Udacity. Saya ingat sekali di course kedua saya, Deep Reinforcement Learning nanodegree, saya hampir tidak lulus karena ada satu project yang sulit sekali untuk dikerjakan sedangkan saya saat itu sedang di masa-masa banyak kegiatan di kampus. Saya harus curi-curi waktu untuk coding saat itu.

course online udacity

Bagian lain yang saya suka dari Udacity adalah fitur “portal karir” nya. Udacity turut membantu pesertanya untuk mengejar karir di bidangnya. Ada beberapa proyek yang mengharuskan kita merombak profil LinkedIn, CV atau tampilan Github kita. Tujuannya agar memudahkan kita melamar kerja nantinya. Setelah selesai course kita juga bisa mengakses alumni portal yang berisi resource lain seperti webinar cara-cara wawancara dan seagainya.

Coursera

Alhamdulillah di tahun 2020 ini saya mendapat kesempatan untuk mengikuti course online premium yang lain, yakni Coursera. Universitas Islam Indonesia tempat saya saat ini bekerja sama dengan coursera untuk menyediakan konten premium atau berbayarnya secara gratis. Sebenarnya saya sendiri belum menyelesaikan satupun dari course yang berbayar ini. Tapi sebelumnya saya beberapa kali telah menyelesaikan course gratis dari Coursera jadi saya coba akan kombinasikan reviewnya

course online coursera

Berbeda dengan Udacity dan Datacamp, tidak semua content di Coursera itu original jadinya kualitas konten sangat tergantung dengan pemberi konten. Total saya sudah pernah mengikuti course dari 4 lembaga berbeda, dan pengalaman yang saya rasakan pun berbeda-beda. Pengalaman terbaik saat ini saya peroleh dari Andrew Ng (deeplearning.ai) dan University of Amsterdam. Keunggulan dari bentuk ini adalah konten yang tersedia jadi sangat banyak pilihan dan beragam!

Konten diberikan dengan beragam cara, mirip dengan Udacity. Ada course, referensi paper, latihannya pun bisa berupa pemrograman. Saya suka dengan adanya fitur transkrip ketika menonton video sehingga bisa lihat apa yang tadi dikatakan pengajar tanpa harus mengulangi videonya. Fitur forum juga tersedia untuk berdiskusi antar siswa jika ada materi yang kurang jelas. Sayangnya yang saya rasa beberapa course forumnya sangat tidak aktif, banyak pertanyaan yang tidak terjawab secara “official”, hanya sekadar perkiraan hasil diskusi antar peserta.

course online coursera

Saya juga sebenarnya masih bingung apa bedanya Coursera yang berbayar dengan yang tidak, secara fitur. Karena kebanyakan course yang disediakan sudah gratis, yang saya tahu sampai saat ini bedanya baru sekadar mendapat sertifikat dan kesempatan diskusi di forum (yang kadang tidak aktif). Tapi saya akan coba selesaikan course-course berbayar ini dan akan mengupdate artikel ini kedepannya jika ada yang menarik untuk didiskusikan.

DICODING

Dicoding termasuk salah satu platform pelatihan programming dan course online yang bisa dibilang “senior” di Indonesia. Karena kebetulan beberapa waktu lalu sedang ada promo, saya sempatkan untuk subscribe selama satu bulan. Ketika review ini saya tulis, saya baru saja menyelesaikan kelas dicoding Belajar Machine Learning untuk Pemula dan >50% progress kelas Pengembangan Machine Learning. Selain itu kami juga sudah menyelesaikan beberapa course lain seperti Dasar Javascript dan Kotlin. Review ini hanya akan berfokus pada kelas Machine Learning

course online dicoding

Salah satu yang suka dari dicoding adalah forum diskusinya. Sangat aktif. Kita bisa bertanya dan akan menerima jawaban kurang dari setengah hari (beberap kali bahkan tidak sampai 1 jam). Ini sangat memudahkan ketika kita mengalami kesulitan saat belajar.

Materi yang diberikan sudah cukup runut. Materi machine learning Dicoding berada dipertengahan yang tidak terlalu dalam tetapi juga tidak terlalu umum. Namun kekurangan yang kami rasakan adalah ternyata Dicoding kurang interaktif. Hampir tidak ada video/animasi, tidak ada kuis/evaluasi ditengah materi, praktik hanya dituntun dari bacaan untuk diikuti secara mandiri (tidak wajib).

Jika dibandingkan tiga course sebelumnya, proses evaluasi peserta di dicoding paling terasa mengganjal. Dengan materi yang cukup banyak tidak ada kuis kecil ditengah-tengah untuk menguji pemahaman kita. Dibandingkan tiga course sebelumnya, dicoding memiliki metode evaluasi yang kurang kuat. Sebagai contoh, hanya ada 1 tugas coding yang dinilai dari course Belajar Machine Learning untuk Pemula. Padahal pada course tersebut dibahas beragam materi dari SVM, Linear Regression, Neural Network, CNN, dll. Pada course Pengembangan Machine Learning tugas pertama tentang NLP ada setelah progres 59% materi setelah melalui beragam topik. Pada Udacity, Coursera, dan Datacamp, selain tugas akhir, ada banyak kuis-kuis kecil bertebaran, baik teori ataupun praktik.

Ringkasan

UdacityCourseraDatacampDicoding*
Harga$999-perprogram$80 per course$30 per bulanRp1,5jt per bulan
Kelebihan+ Konten interaktif
+ Ada fitur materi lain yang menunjuang karir
+ Banyak latihan teori ataupun praktik
+ Forum diskusi aktif
+ Ada banyak pilihan course machine learning
+ Beberapa course interaktif
+ Ada latihan teori ataupun praktik
+ Konten interaktif
+ Konten pertengahan tidak terlalu sulit dan tidak terlalu mudah
+ Banyak latihan teori ataupun praktik, tapi kebanyakan fokus ke praktik
+ Ada fitur “Project” yang menggunakan real case
+ Bahasa Indonesia
+ Konten pertengahan tidak terlalu sulit dan tidak terlalu mudah
+ Forum diskusi aktif
+ Akses course selamanya setelah lulus
Kekurangan– Biaya mahal
– Akses course hanya 1 tahun bahkan setelah lulus
– Tugas akhir lumayan menantang
– Tergantung penyedia course, beberapa kurang interaktif
– Forum kurang aktif
– Materi banyak fokus ke praktik
– Materi teori terlalu umum
– Proses evaluasi kurang
– Beberapa materi terlalu umum (hanya intuisi)
*Belajar Machine Learning untuk Pemula dan Pengembangan Machine Learning

Jika ditanya mana yang worth it? bagi saya pribadi dengan gaji orang Indonesia, saya akan lebih memilih untuk mendalami dengan belajar menggunakan resource gratis, tetapi jika ada kesempatan beasiswa atau mengikuti course online gratis lagi dari Datacamp, Udacity, atau Coursera, atau pas ada diskon dari Dicoding kenapa tidak? apapun course online nya akan tetap menambah ilmu dan wawasan bagi orang yang mau belajar 🙂

About the author

Rian Adam

Lecturer at Universitas Islam Indonesia; Machine Learning Enthusiast

View all posts

Leave a Reply