Belajar Ragam Strategi Deep Learning dengan CIFAR10 Dataset

Semester lalu di salah satu tugas kuliah Computer Vision, kita diminta untuk membuat model CNN dengan dataset CIFAR10. Awalnya ngira ini kayak MNIST dataset yang satset train nggak sampai 10 epoch dapet akurasi >90%. Ternyata dataset ini lebih kompleks. Menariknya, dari satu tugas sederhana ini, Pak Dosen mengenalkan para mahasiswa tentang beragam strategi di deep learning.

Di tutorial ini kita akan coba membuat model machine learning untuk dataset CIFAR10. Kita akan buat modelnya dari scratch menggunakan PyTorch dan tidak menggunakan pre-trained model agar kita bisa lebih dalam memahami apa yang terjadi. Kita juga akan menarget (sebagai tantangan) untuk mendapatkan akurasi >85% dalam 40 epoch.

Source code tutorial ini tersedia dalam bentuk Google Colab di sini (akan terus dilengkapi komentar dan catatan pada notebook tersebut)

Catatan: Artikel ini tidak membahas dasar-dasar deep learning menggunakan PyTorch. Bagi yang ingin tahu dasar deep learning atau dasar PyTorch bisa mengunjungi artikel terkait di blog ini:

CIFAR10 Dataset

Dataset CIFAR10 adalah dataset citra berukuran 32×32 pixel berwarna. Sesuai namanya, CIFAR10 terdiri dari 10 kelas (kucing, burung, …, kapal). Jelas dataset ini berbeda dari MNIST yang hanya hitam putih. Selain itu jika dilihat di paper-paper, rata-rata akurasi yang diperoleh untuk CIFAR10 adalah sekitar 92% (dibanding MNIST yang bisa sampai >98%). Meskipun begitu, dataset ini masih tergolong mudah dan cocok untuk buat latihan klasifikasi citra. Dataset CIFAR10 bisa didownload langsung menggunakan perintah dari PyTorch.

Sebastian Raschka, machine learning researcher yang bukunya cukup populer, juga berpendapat CIFAR10 termasuk salah satu dataset yang cocok untuk latihan.
Continue reading

Mencari Alternatif Google Colab

Setelah lebih dari dua tahun tulisan pertama tentang Google Colab, pada artikel ini kami mau sharing pengalaman mencari alternatif google colab beberapa pekan terakhir. Apakah ada yang sebanding?

Setelah browsing artikel sejenis dan juga lihat-lihat akun twitter aktivis machine learning, akhirnya menemukan ada dua platform yang menarik untuk dicoba, Gradient dan Jarvis Labs. Perlu dicatat, kedua platform itu berbayar. Alhamdulillah karena dibantu dana penelitian, proses eksplorasi ini tidak jadi pikiran tambahan tagihan hehe.

Artikel ini akan berfokus pada alternatif berbayar Gradient dan Jarvis Labs, insyaAllah akan ada artikel lain yang akan bercerita alternatif yang juga bisa dibandingkan dalam hal sama-sama gratis.

Kenapa Tidak Google Colab?

Sebenernya, secara fitur, Google Colab sudah memiliki banyak keunggulan: terintegrasi dengan github dan drive, mudah dipakai, dan termasuk yang tadi saya sebut di awal, gratis. Fitur-fitur itu sudah sangat cukup untuk hampir kebanyakan pengguna. Tapi, beberapa pengguna yang cukup intens akan merasakan beberapa kekurangan yang membuat mereka harus mencari alternatif google colab.

Beberapa kekurangan yang mungkin dirasakan:

1. Google Colab tidak bisa menjamin jenis hardware yang kita peroleh. Bahkan ketika kita menggunakan Google Colab Pro+ yang berbayar (sementara ini belum tersedia di Indonesia), kita tidak bisa tahu tepatnya GPU apa yang akan kita peroleh atau berapa kapasitas Memory yang bisa kita gunakan maksimal.

2. Google Colab “tidak menyediakan” persistent storage, atau tempat penyimpanan permanen . Sebenarnya Colab sudah memberi fitur untuk menghubungkan google drive dengan colab, tetapi bagi pengguna yang intens codingnya dan membangun sistem yang terdiri dari banyak source code file dan data, penghubungan ini terasa tidak alami dan bisa jadi mengganggu kinerja. Apalagi kalau sampai lupa/gagal menyimpan model karena masalah ini.

3. Terbatas hanya format notebook. Meskipun ada beberapa trik yang bisa digunakan, google colab secara alami hanya menyediakan format notebook (.ipynb). Bagi yang biasa coding dengan bentuk script file (.py), atau perlu menggunakan terminal, sementara ini belum bisa dilakukan.

4. Waktu runtime yang terbatas. Jika colab kita tidak aktif dalam beberapa menit koneksi bisa diputus. Dan untuk running program dibatasi maksimal 12 jam, setelah itu akan ada jeda (kayak sesi cooling down) beberapa waktu untk kita bisa gunakan Google Colab lagi.

Alternatif Google Colab Berbayar

1. Gradient by Paperspace

Pertama kali dengar Gradient ketika mengikuti course dari Fast.ai. Saat itu mereka merekomendasikan Gradient yang menyediakan GPU dan fitur-fitur yang lebih baik dibanding Colabsecara gratis. Tapi sayangnya, di versi yang sekarang kita perlu membayar (menjadi member) untuk menggunakan Gradient. Gradient menyediakan beragam jenis pilihan CPU/GPU yang bisa digunakan, dari yang standard seperti RTX4000 sampai yang sangat bagus seperti A100.

Continue reading

Deep Learning dalam 6 Baris dengan Fastai dan Pytorch

Sebelumnya maaf semisal judulnya agak “heboh” dan terkesan click-bait 😀 tapi di artikel ini beneran saya ingin menunjukkan bahwa deep learning, khususnya image classification dengan CNN sebenarnya dapat dengan mudah dilakukan hanya dengan 6 baris kode berikut menggunakan library Fastai dan Pytorch:

dibuat menggunakan https://carbon.now.sh, versi raw ada di bawah

Artikel ini berfokus pada pengenalan singkat tentang fastai dan juga penjelasan tentang kode di atas. Tutorial lebih detail dan mendalam tentang fastai insyaAllah akan kami coba buat di artikel lain.

Berawal dari Pytorch vs Tensorflow

Sebelum kita masuk lebih dalam tentang Fastai, kita akan me-refresh singkat tentang library atau framework di deep learning. Bagi yang belum tahu, ada dua library besar yang saat ini cukup sering digunakan, yakni Pytorch dan Tensorflow. Pytorch dibuat oleh Facebook sedangkan Tensorflow oleh Google. Keduanya memiliki beragam fitur yang mendukung deep learning, salah satunya Autograd yang pernah saya bahas di artikel ini. Nah, sering kali bagi yang baru belajar deep learning akan bertanya:

Pilih pakai Pytorch atau Tensorflow?

Jawaban salah

Tensorflow itu lebih mudah dipelajari dan digunakan daripada Pytorch. Itu jawaban yang sering saya dengar. Kenapa salah? karena saya yakin kebanyakan orang yang jawab itu dia bukan sedang membandingkan Tensorflow yang murni, melainkan library tambahan yang berada di atas Tensorflow, yakni Keras. Tensorflow yang murni bisa dibilang lumayan ribet juga loh untuk dipelajari dan digunakan (apalagi pas masih versi 1.x di tahun 2019)

Jadi sekilas sejarah, dulu library deep learning itu memang susah-susah pemakaiannya (low-level). Library generasi awal, Theano, bahkan ngodingnya harus “jungkir balik” alur mikirnya. Karenanya, dibutuhkan library lagi di atasnya yang high-level (mudah dipahami dan digunakan) namun tetap terintegrasi dengan library yang low-level, lahirlah salah satunya Keras. Sekarang Keras sudah sangat terintegerasi dengan Tensorflow bahkan tidak perlu di-install terpisah. Tutorial Tensorflow-Keras pernah saya tuliskan di sini.

Jawaban benar
dari salah satu developer utama Pytorch

Saat ini bisa dibilang Pytorch dan Tensorflow (khususnya versi 2) sangat mirip. Keduanya sama-sama smoothly bisa digunakan untuk hampir kebanyakan kebutuhan riset dan sehari-hari. Jadi apapun librarynya silakan pilih saja, dan yang terpenting, kuasai dulu sebelum coba library lain.

Kembali ke Jawaban yang salah di atas, ketika kita membandingkan Keras dengan Pytorch maka bisa dibilang kurang apple-to-apple. Karena Keras pada dasarnya adalah high-level library sedangkan Pytorch adalah low-level library, jadi jelas Keras terlihat lebih mudah pemakaiannya. Nah, di artikel ini saya akan jelaskan salah satu high-level library paling populer untuk Pytorch, yakni Fastai.

Continue reading

Transfer Learning: Solusi Deep Learning dengan Data Sedikit

Salah satu permasalahan yang sering dialami ketika menggunakan deep learning adalah jumlah data yang sedikit. Di luar sana, sebenernya ada banyak solusi yang ditawarkan untuk mengatasi masalah ini. Nah, di sini kita akan bahas salah satunya, yakni Transfer Learning. Artikel ini akan berfokus pada teori di baliknya, sedangkan untuk implementasi akan ada di artikel selanjutnya.

Model Deep Learning

Sebelum masuk lebih dalam ke transfer learning, saya ingin mengingatkan sedikit tentang bagaimana konsep deep learning (secara umum machine learning) bekerja.

Suatu agen cerdas yang menggunakan deep learning bekerja menggunakan data. Kita berikan data yang banyak untuk dipelajari, kita lakukan proses training/belajar, lalu kita akan mendapat model/agen yang cerdas.

Lalu muncul pertanyaan..

Proses pencarian data itu rumit, proses training itu makan waktu, kenapa kita tidak download saja model cerdas yang ada di internet lalu kita gunakan untuk masalah kita? tidak perlu train, dan tidak perlu ada data, beres kan?

Transfer Learning

Ide utama dari transfer learning ini kira-kira seperti ini,

Kita gunakan model yang sudah dicerdaskan orang lain untuk permasalahan kita, yang bahkan bisa jadi berbeda

Sebagai contoh, kita mau membuat sistem untuk menghitung kendaraan beserta jenisnya menggunakan kamera CCTV. Jika jenis kendaraannya yang ingin dideteksi cukup umum, semisal “mobil” atau “truk”, kita bisa jadi cukup browsing-browsing, dan kita akan menemukan orang yang sudah membuat model deep learningnya. Kita tinggal download, pakai, dan selesai! Kita telah memiliki model cerdas deep learning yang mampu mendeteksi mobil atau truk. Tanpa perlu mencari data, tanpa perlu melatih model.

Tapi seringnya permasalahan yang kita miliki sedikit berbeda. Sedikit saja perbedaan, maka kita sudah tidak bisa lagi pakai model orang lain ini. Contohnya, kita tidak hanya ingin mendeteksi “mobil” dan “truk” tapi juga “becak”. Permasalahannya, “becak” itu bukan kendaraan yang di mana-mana ada. Sangat mungkin model yang kita download tadi belum bisa mendeteksi becak.

Di sinilah, kita butuh transfer learning. Kembali ke ide utama di atas, dengan transfer learning, kita bisa memanfaatkan model orang lain yang sudah dilatih, untuk permasalahan kita yang berbeda.

Jadi ada 3 poin yang kita bahas di sini:

  • Model yang sudah dicerdaskan
  • Cara menggunakan model tersebut
  • Permasalahan yang (bisa jadi) berbeda

Oh ya, sebelum masuk lebih dalam, konsep Transfer Learning ini berlaku tidak hanya untuk arsitektur CNN saja. Tapi pada tutorial ini saya akan banyak mencontohkan menggunakan CNN karena lebih mudah dibayangkan.

Continue reading

Image Classification dengan CNN dan Tensorflow

Pada artikel ini saya akan menjelaskan secara ringkas langkah-langkah penggunaan Tensorflow untuk Image Classification / Klasifikasi Citra. Perlu dicatat, saya menggunakan Tensorflow versi 2 yang mungkin berbeda dengan Tensorflow versi 1. Selain itu, saya garis bawahi lagi artikel ini membahas image classification (menentukan ini gambar apa), bukan detection (menentukan objek apa dan di mana pada gambar). Secara alur, pada artikel ini saya mengembangkan dari artikel sebelumnya tentang implementasi CNN menggunakan PyTorch

Dataset

Dataset yang akan kita gunakan adalah citra barang-barang yang ada di sebuah toko (dimodifikasi dari Freiburg Groceries Dataset) yang terdiri dari 5 kelas, yakni citra produk Susu (MILK), Air mineral (WATER), soda (SODA), jus (JUICE), dan cuka (VINEGAR). Total terdapat sekitar 900-an gambar untuk pelatihan dan 120 gambar untuk pengujian. Semua citra berukuran sama, yakni 256×256 pixel. Dataset dan code bisa di-download di repository berikut.

salah satu citra dengan kelas “Juice”

Kita akan menggunakan dataset yang ada pada folder “train” untuk pelatihan dan yang ada pada folder “test” untuk pengujian. Pada tutorial ini kita masih belum menggunakan teknik validasi seperti menggunakan data validasi atau cross-validation.

Pre-Processing

Jika diperhatikan, format folder dataset yang telah di-download adalah seperti berikut.

dataset/
   train/
      kelas_1/
         citra_103.png
         citra_22.png
         ...
      kelas_2/
         citra_123.png
         citra_324.png
         ...
      ...
   test/
      ...

Format tersebut adalah format standar untuk image classification. Ketika format foldernya sudah seperti itu, beberapa framework seperti Tenorsflow atau PyTorch sudah menyediakan cara mudah untuk meload data. Pada Tensorflow kita bisa menggunakan perintah berikut untuk meload dataset.

from tensorflow.keras.preprocessing.image import ImageDataGenerator

datagen = ImageDataGenerator(rescale=1/255.) # pre-processor
datatrain = DirectoryIterator('train', datagen) # load trainset dari folder train/
datatest = DirectoryIterator('test', datagen) # load testset dari folder test/
Continue reading