Axelrod Duels, Lomba Unik Menandingkan Dua Code

Ramadhan lalu saya ikut lomba IT yang cukup menarik yang diselenggaralan oleh IIIT Lucknow, India. Lomba ini rangkaian event besar Equinox 2022 yang terdiri dari banyak lomba IT (yang juga unik) dan kegiatan lain. Axelrod Duels adalah lomba yang unik dan kreatif. Pada lomba ini, peserta akan submit source code python, lalu source code tersebut “ditandingkan” dengan source code peserta lain. Kita akan dapat poin dari hasil dari tiap pertandingan, pemenang adalah yang memiliki akumulasi poin tertinggi hingga akhir perlombaan.

Saya alhamdulillah dapat posisi ketiga di lomba ini, tapi sejujurnya saya benar-benar tidak yakin kenapa bisa juara :/ Sudah sempat diskusi dengan peserta lain, tapi karena tidak ada official release jadi masih merasa tidak yakin. Salah satu tujuan post ini selain berbagi konsep lomba yang unik, tapi juga bisa jadi bahan diskusi atau analisis bagaimana source code saya bisa masuk Top-3.

Aturan lengkap perlombaan bisa dibaca di halaman Axelrod Duels, tetapi ringkasan aturan juga akan saya tuliskan di bawah. Halaman itu adalah mirror, karena official page nya sudah ditutup.

Peringkat akhir bisa dilihat di halaman ini.

Continue reading

Mencari Alternatif Google Colab

Setelah lebih dari dua tahun tulisan pertama tentang Google Colab, pada artikel ini kami mau sharing pengalaman mencari alternatif google colab beberapa pekan terakhir. Apakah ada yang sebanding?

Setelah browsing artikel sejenis dan juga lihat-lihat akun twitter aktivis machine learning, akhirnya menemukan ada dua platform yang menarik untuk dicoba, Gradient dan Jarvis Labs. Perlu dicatat, kedua platform itu berbayar. Alhamdulillah karena dibantu dana penelitian, proses eksplorasi ini tidak jadi pikiran tambahan tagihan hehe.

Artikel ini akan berfokus pada alternatif berbayar Gradient dan Jarvis Labs, insyaAllah akan ada artikel lain yang akan bercerita alternatif yang juga bisa dibandingkan dalam hal sama-sama gratis.

Kenapa Tidak Google Colab?

Sebenernya, secara fitur, Google Colab sudah memiliki banyak keunggulan: terintegrasi dengan github dan drive, mudah dipakai, dan termasuk yang tadi saya sebut di awal, gratis. Fitur-fitur itu sudah sangat cukup untuk hampir kebanyakan pengguna. Tapi, beberapa pengguna yang cukup intens akan merasakan beberapa kekurangan yang membuat mereka harus mencari alternatif google colab.

Beberapa kekurangan yang mungkin dirasakan:

1. Google Colab tidak bisa menjamin jenis hardware yang kita peroleh. Bahkan ketika kita menggunakan Google Colab Pro+ yang berbayar (sementara ini belum tersedia di Indonesia), kita tidak bisa tahu tepatnya GPU apa yang akan kita peroleh atau berapa kapasitas Memory yang bisa kita gunakan maksimal.

2. Google Colab “tidak menyediakan” persistent storage, atau tempat penyimpanan permanen . Sebenarnya Colab sudah memberi fitur untuk menghubungkan google drive dengan colab, tetapi bagi pengguna yang intens codingnya dan membangun sistem yang terdiri dari banyak source code file dan data, penghubungan ini terasa tidak alami dan bisa jadi mengganggu kinerja. Apalagi kalau sampai lupa/gagal menyimpan model karena masalah ini.

3. Terbatas hanya format notebook. Meskipun ada beberapa trik yang bisa digunakan, google colab secara alami hanya menyediakan format notebook (.ipynb). Bagi yang biasa coding dengan bentuk script file (.py), atau perlu menggunakan terminal, sementara ini belum bisa dilakukan.

4. Waktu runtime yang terbatas. Jika colab kita tidak aktif dalam beberapa menit koneksi bisa diputus. Dan untuk running program dibatasi maksimal 12 jam, setelah itu akan ada jeda (kayak sesi cooling down) beberapa waktu untk kita bisa gunakan Google Colab lagi.

Alternatif Google Colab Berbayar

1. Gradient by Paperspace

Pertama kali dengar Gradient ketika mengikuti course dari Fast.ai. Saat itu mereka merekomendasikan Gradient yang menyediakan GPU dan fitur-fitur yang lebih baik dibanding Colabsecara gratis. Tapi sayangnya, di versi yang sekarang kita perlu membayar (menjadi member) untuk menggunakan Gradient. Gradient menyediakan beragam jenis pilihan CPU/GPU yang bisa digunakan, dari yang standard seperti RTX4000 sampai yang sangat bagus seperti A100.

Continue reading

Pengalaman Menghadapi IELTS dalam 2-3 Minggu

Kita tahu tes IELTS beda dengan TOEFL ITP, dari sisi harga dan juga tingkat kesulitannya. Karenanya persiapan yang dilakukan “seharusnya” lebih matang, apalagi jika kita menarget nilai tertentu. Tapi, dalam beberapa kondisi kita bisa jadi terpaksa harus ambil IELTS dalam waktu yang singkat. Contoh yang saya alami, saya sudah 2x kepaksa harus ambil IELTS dengan waktu persiapan kurang dari 3 minggu, di awal tahun 2019 dan satu lagi di awal Juni lalu. Artikel ini akan sedikit cerita apa-apa yang saya siapkan dalam waktu sesingkat itu.

Langkah Pertama: Browsing

Langkah pertama yang sebaiknya dilakukan untuk memulai persiapan IELTS adalah luangkan waktu untuk browsing; cari-cari info tentang IELTS. Jika kalian menemukan artikel ini karena sedang browsing, maka teruskan browsing, cari banyak pengalaman orang, tutorial di youtube (link-link ada di bawah), atau tips-tips baik dari personal atau lembaga di internet. Penting untuk bisa memahami IELTS dari banyak sisi.

IELTS Simulation

IELTS Simulation Test memang akan menambah biaya persiapan, sekitar 150-250rb, tetapi ini penting untuk memetakan sejauh apa kemampuan kita. Ingat, dua dari empat yang diujikan tidak bisa dinilai mandiri (Writing dan Speaking). Ada banyak lembaga penyedia IELTS simulation test, di Jogja ada Elti dan IONs, kalau di Klaten saya sempat ambil simulation test di Real English Klaten. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum simulation test:

  1. Pastikan ambil simulation di minggu awal persiapan. Sehingga ada cukup waktu untuk memetakan dan memperbaiki kemampuan kita.
  2. Perhatikan detail-detail yang dirasakan selama simulation sebagai catatan untuk persiapan di hari H. Misalnya, ingat pada soal jenis apa kita lemah, apa strategi pengerjaan yang paling nyaman/baik bagi kita, atau sekadar perlukah kita pakai Jaket atau tidak.

Sebagai contoh, di simulation terakhir saya, saya mencatat beberapa poin:

  • Saya lemah di writing, khususnya untuk membuat paragraf pembuka/pertama
  • Saya lemah di writing dalam memanajemen waktu dan tulisan saya akan memburuk ketika semakin panik
  • Saya tidak bisa tenang di awal speaking yang bikin tidak terkontrol ucapannya (bisa out of topic)
  • Saya bisa kehabisan vocab untuk topik yang sulit
  • Saya sering ngantuk dan tidak fokus di tengah tes reading
  • Saya beberapa kali gagal mengeja kata di tes listening

Memetakan apa kekurangan dan kelebihan kita membuat waktu belajar kita lebih efisien.

Continue reading
GRE General

My Experience taking GRE General Test at Home

This year, I got a new experience to take the GRE General Test at Home (online GRE Test). I took this test because of a need that requires including GRE scores even though there is no minimum requirement. Therefore, I took the GRE test with super minimal preparation. So don’t expect this article to tell you about tips for dealing with the GRE. I’m just going to share my experience taking the GRE General Test at Home.

For those interested in studying abroad, you must have heard of the GRE test. In some campuses abroad, in addition to an English certificate, we are usually also required to include a GRE score with a certain minimum. But at some other campuses, the GRE is not mandatory. So, before taking this test, make sure you need to take this test. I’ve never even heard that the GRE test can be used for college admission requirements in Indonesia.

The GRE test is different from the IELTS or TOEFL test that is available almost everywhere. The GRE test is only available in certain cities. What I know is in Bandung, Jakarta, and Surabaya. But recently, there is an At-Home Test option, where we can test GRE at home online.

GRE General Test

The test is consist of 3 sections: Verbal, Quantitative , & Analytical Writing.

Verbal test, in general, there are two types of questions here: reading comprehension and word choice. Regardless of the type, the biggest challenge on this test is the English vocabulary. During the test, we will meet with difficult (unbelievably) words that I never encounter .-. (“enervate”, “prodigal”, “laconic”, “calumny”, …) and we must understand its meaning and usage.

Quantitative test, (usually just called “Quant”) as the name implies, this is a basic math test. Although basic, this test is not just basic arithmetic like the TPA test here. The problem is more complicated and more tricky. We need to remember the basic geometric formulas, combinations, permutations again, and more importantly, just memorizing formulas doesn’t help.

Analytical Writing test, In this test, we will be asked to write two English essays that are correct grammatically and logically. In the first essay, we will be asked to respond to an issue, and in the second essay, we will be asked to make logical rebuttals from other people’s statements.

Continue reading
GRE General

Pengalaman Tes GRE General Online at Home

Alhamdulillah, tahun ini dapat pengalaman baru untuk ambil GRE General Test at Home (Tes GRE online di rumah). Saya ambil test ini karena suatu keperluan yang mengharuskan menyertakan nilai GRE meskipun tidak ada syarat minimalnya. Karenanya, saya ambil test GRE ini dengan persiapan yang super minimal. Jadi jangan berharap artikel ini akan bercerita tentang tips-trik menghadapi GRE, saya hanya akan berbagi pengalaman mengambil GRE General Test at Home.

Bagi teman-teman yang tertarik untuk ambil kuliah ke luar negeri pasti pernah dengar tes GRE. Di beberapa kampus di luar negeri, selain sertifikat bahasa inggris, biasanya kita juga diwajibkan menyertakan nilai GRE dengan minimal tertentu. Tapi di beberapa kampus lain, GRE tidak wajib. Jadi, sebelum ambil test ini pastikan dengan betul apakah kalian perlu ambil test ini. Di Indonesia sendiri, saya malah belum pernah dengar tes GRE ini bisa digunakan untuk syarat masuk kuliah.

Tes GRE beda dengan tes IELTS atau TOEFL yang ada di mana-mana, tes GRE hanya ada di kota-kota tertentu saja, Yang saya tahu ada di Bandung, Jakarta, dan Surabaya. Tapi baru-baru ini ada opsi At Home Test, di mana kita bisa tes GRE di rumah online.

GRE General Test

Tes ini terdiri 3 bagian: Verbal, Quantitative , & Analytical Writing.

Verbal test, secara umum ada dua jenis soal di sini: memahami bacaan dan memilih kata. Apapun jenisnya, tantangan terbesar di tes ini adalah kosakata bahasa Inggrisnya. Sepanjang test kita akan berjumpa dengan kata-kata (luar biasa) sulit yang hampir tidak pernah saya temui .-. (“enervate”, “prodigal”, “laconic”, “calumny”, …) dan harus paham makna dan penggunaannya.

Quantitative test, (biasa hanya disebut “Quant”) sesuai namanya ini test matematika dasar. Meskipun dasar, test ini bukan sekadar aritmatika dasar kayak di test TPA di sini. Soalnya lebih sulit dan lebih tricky. Kita perlu ingat lagi rumus-rumus dasar geometri, kombinasi, permutasi, dan yang lebih penting hafal rumus saja tidak membantu.

Contoh Soal GRE General yang saya coba Indonesiakan (soal asli berbahasa Inggris)

Analytical Writing test, di test ini kita akan diminta menulis dua essay bahasa inggris yang tidak hanya benar secara grammar tapi juga harus analitis dan logis. Pada essay pertama kita akan diminta untuk menanggapi suatu isu dan pada essay kedua kita akan diminta membuat sanggahan secara logis dari pernyataan orang lain.

Continue reading